Usaha Sprout Pharmaceuticals akhirnya membuahkan hasil. Setelah lima
tahun melobi Komite Penasihat Food and Drug Administration (FDA) Amerika
Serikat, akhirnya perusahaan, yang berbasis di Raleigh, North Carolina,
itu berhasil mendapatkan izin mengedarkan produknya, Flibanserin. Obat
yang disebut terakhir ini adalah viagra untuk wanita. Putusan ini
menjadi langkah baru dunia farmasi "negeri Paman Sam".
Sebab, flibanserin adalah "Viagra" untuk perempuan pertama di AS.
''Kami sangat senang dengan hasil positif dari pertemuan Komite
Penasihat ini,'' kata Cindy Whitehead CEO, Sprout Pharmaceuticals,
seperti yang dikutip GATRA dari situs resmi mereka.
Fungsi flibanserin sebenarnya sedikit-banyak seperti ''Pil Biru'' bagi
pria di pasaran, yakni untuk meningkatkan gairah seksual.
Namun, flibanserin memiliki cara kerja berbeda dibandingkan dengan
obat kuat bagi pria. Viagra pada kaum Adam biasanya dikonsumsi sesaat
sebelum hubungan seksual berlangsung, sehingga aliran darah ke organ
sensitif meningkat. Namun tidak demikian dengan Flibanserin. Agar fungsi
peningkatan gairah seksual aktif, flibanserin harus dikonsumsi setiap
hari secara berkala.
Bukan apa-apa, pasalnya flibanserin bekerja melalui saraf-saraf di
otak. Menurut Cindy, untuk menimbulkan hasrat seksual di saraf
membutuhkan waktu yang cukup lama. ''Lebih dari 1.000 wanita kami teliti
selama setahun penuh untuk mengetahui khasiatnya,'' kata Cindy.
Seiring dengan berjalannya waktu, tumpukan zat ADDYI dalam flibanserin, dapat mempengaruhi dua
neurotransmitter di otak dalam hal syahwat kaum Hawa. ADDYI sendiri adalah
serotonin agonist antagonis yang multifungsi.
Sedangkan serotonin adalah zat kimia di otak yang berfungsi membawa
pesan antarneuron terkait dengan perasaan seseorang. ADDYI ini, menurut
Cindy, dapat menjadi salah satu jawaban bagi perempuan
premenopause yang mengalami
hypoactive sexual desire disorder (HSDD), atau menurunnya gairah seksual.
Cara kerja ADYYI, menurut Cindy, dengan meningkatkan
dopamin dan
norepinefrin,
yang berfungsi membangkitkan gairah seksual. ''Di saat bersamaan, ADYYI
berfungsi menurunkan serotonin, atau zat kimia yang menghambat gairah
seksual, di korteks prefrontal otak,'' kata Cindy. ''ADDYI membantu
mengembalikan kontrol korteks prefrontal agar lebih termotivasi untuk
menimbulkan hasrat seksual.''
Keberadaan obat ini, menurut Cindy, penting. Sebab, dari hasil
penelitian Sprout di AS, banyak wanita berumur 40 tahun, atau menjelang
menopouse, mengalami HSDD. ''Satu dari tiga wanita di AS mengalami
penurunan hasrat seksual,'' kata Cindy. Penelitian ini sendiri, menurut
Cindy, dilakukan pada 11.000 wanita di AS.
''Wanita yang diuji dengan ADDYI menunjukkan perbaikan yang
signifikan di setiap titik pengukuran pada semua fase uji klinis
penting.''
Selain meningkatnya gairah seksual, menurut Cindy, kelebihan
flibanserin adalah tidak memicu perubahan fisik langsung dalam tubuh.
Namun, dari hasil penelitian tersebut, diakui Cindy, ada beberapa efek
yang tak dapat dihindari. ''Efek samping yang paling umum diamati dalam
penelitian adalah pusing, mual, atau ngantuk,'' katanya.
Keberhasilan Sprout dalam memperoleh lampu hijau dari Komite
Penisehat FDA itu tidak lepas dari usaha gigih yang mereka lakukan
selama ini. Seperti yang telah disebut di atas, lima tahun adalah waktu
yang dibutuhkan Sprout untuk mendapatkan restu. Selama lima tahun
itu, flibanserin telah dua kali uji di Komite. Hasilnya, ditolak.
Penolakan pertama terjadi 2010. Saat itu, Flibanserin diuji oleh
Komite saat perusahaan Boehringer Ingelheim meminta izin edar di AS.
Boehringer Ingelheim adalah perusahaan penemu pertama viagra perempuan
itu. Penolakan FDA saat itu ialah flibanserin berefek negatif, yakni
menyebabkan pingsan bagi pengonsumsinya karena tekanan darah rendah.
Pada 2011, flibanserin dibeli oleh Sprout. Dua tahun
kemudian, flibanserin diuji kembali di depan anggota Komite dan mendapat
hasil yang sama, ditolak. ''Pertanyaan mendasar adalah apakah efek
pengobatan ini lebih besar daripada risikonya?'' ungkap FDA seperti yang
dikutip dari The Guardian.
Lobi panjang pun dilakukan Sprout untuk membuktikan manfaatnya.
Berbagai data diajukan, termasuk hasil uji klinis terhadap manusia. Para
wanita yang berpartisipasi dalam uji klinis itu pun memberikan reaksi
positif. Seperti yang dikatakan Amanda Parrish. Menurutnya, sebelum
turut serta dalam uji coba itu, ia mengalami masalah gairah seksual
dengan suaminya. ''Setelah delapan bulan turut serta, obat ini
menyelamatkan hubungan asmara saya. Ini seperti lampu yang kembali
dinyalakan,'' katanya.
Meski telah dinyatakan lolos uji oleh Komite, tampaknya keraguan
masih membayangi flibanserin. Sebanyak delapan orang, dari total 24
anggota Komite, menolak izin edar flibanserin. Kini, tinggal FDA yang
dapat memutuskan apakah flibanserin bakal mendapat izin. Ya, dalam urus
edar izin obat di AS, biasanya didahului oleh pengujian di depan anggota
Komite. Namun, selama ini, bila telah dinyatakan lulus oleh Komite, FDA
pun akan memberi lampu hijau.
''Panelis sepakat bahwa manfaat dari obat ini tidak besar. Tapi
masih berarti bagi pasien,'' kata seorang anggota Komite Penasihat,
seperti yang dikutip dari Scientific American. ''Penempatan obat di
pasar harus bersama informasi tentang efek sampingnya.''
Peningkatan gairah seksual melalui saraf ini diamini oleh neurolog
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andradi Suryamiharja.
''Gairah seksual tersebut memang dapat terpancing melalui saraf,'' kata
Andardi kepada Asri Wuni Wulandari dari GATRA. Hal ini dimungkinkan,
karena neurotransmitter memang diakuinya dapat berperan dalam aktivitas
seksual. Peran dari neurotransmitter itu, di antaranya didapat melalui
dopamine dan serotonin.
Keberadaan flibanserin ini mendapat apresiasi dari sekskolog Wimpie
Pangkahila. Menurut Wimpie, obat untuk menaikkan gairah seksual seperti
flibanserin ini penting sebagai solusi bagi perempuan zaman sekarang.
Pasalnya, menurut Wimpie, perempuan yang mengalami HSDD semakin hari
semakin banyak. Berdasarkan pengalaman Wimpie, setidaknya dalam sebulan
terdapat 75 perempuan di usia 35 tahun ke atas yang mengalami HSDD.
''Penyebarannya tidak hanya di kota-kota besar di Indonesia, tetapi
hampir merata,'' kata Wimpie kepada GATRA.
Ada beberapa penyebab mengapa wanita mengalami HSDD. Pertama
karena penurunan hormon secara alami. Kedua, masalah psikis. Ada juga
karena trauma dalam kehidupan seksualnya, seperti perilaku negatif sang
suami. Keempat, gangguan HSDD dapat disebabkan oleh faktor bangkitan,
seperti gagal ereksi pada pria.
Namun demikian, Wimpie memberi catatan bagi calon konsumen bahwa
Flibanserin tidak akan bekerja bila perempuan tersebut HSDD karena
hormon. Obat ini, kata Wimpie, hanya bekerja pada perempuan yang
dopamine dengan serotonin tidak seimbang. Untuk mengetahui hal itu,
menurut Wimpie, hanya melalui diagnosis doktor. ''Jadi tidak bisa serta
merta langsung dikasih obat ini,'' katanya.
(www.gatra.com)