Tampilkan postingan dengan label historis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label historis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 April 2017

10 Kota di Indonesia yang Terkenal dengan Wanita Malam


 
 
 
 
 
 
11 Votes

1. Surabaya
Terkenal dengan beberapa lokalisasinya yang sekarang sudah menjadi lokalisasi terselubung.
2. Jakarta
Kota Metropolitan dengan dunia hiburan malamnya
3. Malang
Kota wisata dengan kesejukan pegunungannya. serta Villa yang bertebaran

Selasa, 28 Maret 2017

Mengungkap Sejarah Bisnis Seks di Abad Romawi Kuno

Lukisan dinding di Pompeii bordil bersejarah telah mengungkapkan kegiatan asmara dari Italia kuno.

The 'Lupanar dari Pompeii' dihiasi dengan berabad-abad lukisan dinding yang menggambarkan adegan seks yang eksplisit.
Rumah seks dulunya tempat nongkrong bagi pengusaha kaya dan politikus sebelum kota Romawi terkenal dihapuskan oleh letusan gunung berapi di 79 AD.

Jumat, 03 Maret 2017

Rumah Bordil Militer Jepang Jadi Situs Dilindungi

josstoday.com

Sebuah rumah bordil militer Jepang di China dinyatakan sebagai situs bersejarah yang dilindungi, demikain laporan media pemerintah pada Kamis.
Saat ini Beijing berusaha menyoroti perselisihan lama di tengah ketegangan baru dengan rival lamanya itu.
Gedung bertingkat tujuh di Nanjing itu menjadi rumah bagi lebih dari 200 wanita penghibur yang dipaksa melayani tentara Jepang dalam Perang Dunia II, dan merupakan fasilitas terbesar dari jenisnya di Asia, lapor kantor berita resmi Xinhua.

Kamis, 09 Februari 2017

Lepas dari Jugun Ianfu Karena Menyamar Sebagai Lelaki

Kisah gadis Indo-Belanda penyintas kamp tawanan perang Jepang di Jambi dan Palembang.

Lepas dari Jugun Ianfu Karena Menyamar Sebagai LelakiPotret Rita la Fontaine de Clercq Zubli di buku memoarnya tentang masa pendudukan Jepang 1942-45. Jelang pendudukan Jepang, seorang pastor menyarankan kepadanya supaya berganti penampilan menjadi seorang anak lelaki. Rita pun menjadi "Richard". Banyak gadis seusianya dipaksa menjadi jugun ianfu (perempuan pemuas nafsu seksual serdadu Jepang), namun penyamarannya sebagai lelaki telah menyelamatkan nasibnya. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)
“Rumah kami menghadap perairan Jambi di sepanjang Sungai Batanghari,” tulis Rita dalam buku kenangan yang berkisah ketika dia berusia 12 tahun. “Sepanjang hari kami mendengar ledakan dari gudang-gudang tempat penyimpanan minyak.”

Rita merupakan gadis Indo-Belanda yang berambut panjang berwarna cokelat tua, sulung dari tiga bersaudara. Dia adalah anak perempuan satu-satunya. Ayahnya bertugas sebagai Kepala Post, Telegraf en Telefoondienst—kantor dinas pemerintah Hindia Belanda yang melayani pos, telegraf, dan telepon—di Jambi.  

Kamis, 26 Januari 2017

Lokalisasi yang Berubah jadi Kampung Seni

Siapa yang sangka, Gang Dolly kini bisa berubah menjadi lebih baik? Terutama di area seni. Gang Dolly, yang dulu dicap sebagai tempat ‘negatif’ karena merupakan tempat lokalisasi itu, kini disulap  tetap hidup dengan wajah barunya sebagai kampung wisata mural. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap tidak meninggalkan warga Dolly begitu saja setelah ditutupnya lokalisasi yang menjadi nafas utama kehidupan di kampung ini. Gang Dolly mampu bangkit dan berbenah diri dengan menjadikan keterampilan-keterampilan setiap individunya agar lebih berguna. Salah satunya, adalah menjadikan seni sebagai daya tarik agar kampung tersebut tetap bisa dikunjungi dan tidak mati.

Senin, 16 Januari 2017

Resensi dan Notasi Buku “Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda”


Penulis: Reggie Baay

Penerbit: Komunitas Bambu

Tahun: 2010

Tebal: 297

Mendengar istilah “Nyai”, tentu kita akan menghubungkan dengan  istilah pasangannya yaitu “Kyai”. Dalam benak kita sudah terasosiasi bahwa istilah “Kyai” dan “Nyai” berkaitan dengan sebutan seorang pemimpin agama khususnya Islam terlebih spesifik sebuah julukan yang berhubungan dengan dunia pesantren. Istilah “Kiai” sendiri memiliki sejarah yang panjang sebelum Islam ada. Dalam sebuah artikel diulas mengenai asal usul kata “Kiai” sbb: “Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu ‘Ki’ dan ‘Yai’. ‘Ki’ adalah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua. Sedang ‘Yai’ adalah kata yang asalnya dari dialek daerah-daerah asia tenggara Indochina, yang terpengaruh bahasa sanskrit dan Pali. ‘Yai’ artinya besar, luas, atau agung. Kata ini masih digunakan di thailand, burma, kamboja. Dan jawa kuno. Maka, jika digabung, Kiyai berarti seorang laki-laki yang dihormati. Dalam segala kapasitas. Bukan hanya bidang ‘agama’ saja”(Asal Mula Kata Santri, Kyai, Pesantren, Sunan, Wali Dan Guru - http://qurunkedua.blogspot.co.id/2014/04/asal-mula-kata-santri-kyai-pesantren.html). Dalam perkembangannya, istilah “Kiai” bermakna orang yang terpandang atau dihormati dalam masyarakat tertentu bahkan berjabatan tertentu di era kolonial. Di era Mataram Islam, istilah “Kiai” berkembang menjadipenamaan senjata perang yang dimiliki oleh orang-orang kerajaan (tombak Kyai Pleret, Kyai Setan Kober milik adipati Jipang Arya Penangsang dan keris Kyai Naga Siloeman yang dipercaya merupakan milik Pangeran Diponegoro). Selain untuk penamaan senjata, “Kyai/Nyai” ini dipakai juga untuk menamai alat musik (gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga milik keraton Yogyakarta). Istilah “Kiai” pun disematkan untuk nama hewan milik para tokoh maupun milik kerajaan (kuda Kyai Gagak Rimang milik adipati Jipang Arya Penangsang maupun Nyai Debleng Sepuh, kerbau bule milik keraton Solo). Selain disematkan pada orang, senjata dan hewan, Kyai/Nyai ini disematkan sebagai penamaan roh-roh yang berkuasa di wilayah tertentu (Kyai Sapu Jagad, sebutan untuk ‘penunggu’ gunung Merapi). Dan akhirnya, istilah “Kiai/Nyai” mengerucut menjadi sebuah sebutan yang berhubungan dengan jabatan dan pemahaman keagamaan dalam hal ini Islam.

Kamis, 12 Januari 2017

SEJARAH BISNIS PROSTITUSI DI JAKARTA

Kali jodo

Pemprov DKI Jakarta terus berupaya melakukan penggusuran lokalisasi pelacuran di Ibu Kota. Setelah Kramat Tunggak yang sukses diubah menjadi Islamic center, kini penggusuran lokasi pemuas syahwat tersebut menyasar kawasan Kalijodo.

Sebelum isu penggusuran Kalijodo bergaung, lokalisasi pekerja seks komersial (PSK) di Boker, Cijantung, Jakarta Timur, juga akan mengalami nasib serupa. Rencana itu menjadi cerminan Pemprov DKI pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama terus berupaya mengubah "daerah hitam" menjadi "daerah putih" seperti yang dilakukan di Kramat Tunggak dengan Islamic centre-nya.

Istilah pelacur kini sudah dilunakkan sebutannya menjadi wanita tuna susila (WTS) atau PSK. Padahal, dalam bahasa Betawi lama sendiri tidak dikenal istilah pelacur, apalagi WTS dan PSK.

Rabu, 12 Oktober 2016

MENGUPAS SEJARAH PELACURAN DI INDONESIA

69617b7a94bf3607c8c6de8b276c2e11_pelacuran-tempo-dulu

 
Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah.
 
Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.

Rabu, 07 September 2016

Sunan Kuning Riwayatmu Kini

 Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Namun, penggunaan nama Sunan Kuning di Semarang sekarang cenderung kurang menghormati sejarah dan menggelisahkan banyak warga setempat.

Betapa tidak? Bila ada orang dari luar ibu kota Provinsi Jawa Tengah tersebut bertanya perihal Sunan Kuning, boleh jadi akan ditunjukkan sebuah tempat pelesiran berisi wanita-wanita muda penjual kehangatan.
Lokalisasi Sunan Kuning pun lebih populer dibanding nama resmi kawasan itu, resosialisasi Argorejo. Siapa sebenarnya sosok Sunan Kuning? 

Adalah Remy Sylado, budayawan dan seniman yang lama menekuni riset di Semarang, yang menjelaskan duduk perkara ini. Seusai riset, pengarang novel sejarah ini menulis perihal Sunan Kuning dalam buku bertajuk 9 Oktober 1740: Drama Sejarah, dalam Catatan Seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe.

Selasa, 16 Agustus 2016

10 Kota Paling Penuh Dosa di Dunia


Pemerintah sebuah kota biasanya melakukan segala cara agar kota tersebut nama baiknya tetap terjaga. Dari mengajak masyarakat berperilaku baik, membangun pusat-pusat keagamaan, atau bahkan melarang klub-klub malam.
Uniknya, ada beberapa kota di dunia yang justru melegalkan semua yang biasa dilarang oleh agama. Pelacuran, alkohol, judi, hingga seks sesama jenis dibiarkan di kota-kota ini. Tak heran, kota-kota ini dapat disebut kota penuh dosa. Apa saja?

10. Berlin, Jerman
Kota ini secara terang-terangan melegalkan prostitusi. Pemerintahnya pun bersikap terbuka terhadap seks bebas, pertunjukkan cabaret, ataupun striptease. Bahkan untuk mendukung praktik tersebut, di Berlin telah berdiri institut pertama yang mempelajari studi seksual. Institut tersebut berdiri pada tahun 1900-an. Jika Anda tak pandai menjaga diri, bisa dipastikan uang Anda akan habis di klub-klub malam yang ada di kota ini. Kota Berlin akhirnya dijuluki ‘kota paling bebas Fetish di dunia’.

Jumat, 12 Agustus 2016

Pley Club, Tempat Bordil Agen Secret Service

  

Pley Club, Tempat Bordil Agen Secret Service  
Beberapa agen Secret Service Amerika Serikat yang dipulangkan dari Kolombia karena tersangkut skandal prostitusi.
 Kemana pengawal khusus Presiden Obama mencari hiburan sambil menjalankan tugas di Kartagena hingga terkena masalah? Mereka ternyata memilih Pley Club, salah satu klub terkenal penyedia jasa pelacuran atau tempat bordil di kota bersejarah itu.

Pley Club menjadi salah satu tujuan wisata bagi para turis yang berkunjung ke Kartagena. Bahkan, sejumlah sopir taksi dibayar dan mendapat komisi jika merekomendasikan klub tersebut kepada wisatawan.

Salah satu rumah bordil ngetop di Kartagena ini terletak di sebuah jalan berdebu di lingkungan industri Bosque, tak jauh dari pelabuhan. Tampak dari luar, Pley Club memang memiliki eksterior yang buruk, tetapi menawarkan kemewahan "kamar pley" di dalamnya.

Selasa, 02 Agustus 2016

Tersaingi Disko, Rumah Bordil Tertua di Jerman Tutup


I
Seorang pekerja seks Jerman menunggu pelanggan.
Rumah bordil tertua di Jerman akhirnya tutup. Peristiwa bersejarah dalam dunia bisnis syahwat ini terjadi, karena kian merebak rumah hiburan disko yang juga siap memuaskan para pria hidung belang.
Selain di rumah disko memberikan sarana hiburan lebih enjoy, rata-rata diskotik yang beroperasi di Hamburg juga menawarkan hiburan syahwat secara terselubung. Daya tariknya lagi, pelacur yang beroperasi mayoritas masih kinyis-kinyis dan harganya lebih murah.
Harian Hamburg Morgenpost dan Bildmelaporkan, Jumat (14/3), hotel Luxor yang dibangun pada 1948, dijual kepada seorang investor dan akan ditutup selamanya mulai bulan depan, kata sang germo, Madam Waltraud Mehrer.

Minggu, 24 Juli 2016

Pelacuran Masa Pendudukan Jepang: “Mengenal Jugun Ianfu Sebagai Korban Kebijakan Politik Jepang”





A. Sejarah Pelacuran di Indonesia
Pelacuran atau tempat para wanita penghibur menjual diri tentu sudah banyak di dengar oleh banyak masyarakat di beberapa kota besar pada saat ini. Sebut saja dengan keberadaan Pasar Kembang di kota Yogyakarta, area prostitusi Dolly di Surabaya, maupun area Simpang Lima di Semarang, itu semua merupakan area- area para pelacur menjajakan diri kepada banyaknya pria- pria kesepian. Munculnya tempat- tempat prostitusi tadi di masa kini mungkin menjadi hal yang sangat biasa di mata masyarakat. Namun apakah banyak yang mengetahui tentang keberadaan sejarah prostitusi atau pelacuran di Indonesia. Lalu apa yang menjadi alasan para wanita- wanita penghibur ini lebih memilih pekerjaan ini? Apakah faktor himpitan ekonomi menjadi sebuah alasan kuat yang membuat para wanita- wanita ini menjadi pelacur?

Rabu, 20 Juli 2016

Awal Prostitusi di Batavia



Berbagai istilah diberikan bagi perempuan penjaja seks. Sebutan pelacur sampai kini masih saja populer. Meskipun sempat diperhalus menjadiWanita Tuna Susila (WTS). Istilah itu pun masih diperhalus lagi menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Tapi di masa penjajahan disebut ‘wanita publik’. Istilah ini karena mereka bebas dimiliki pria yang membayarnya.
Sejak kedatangan orang Belanda di Nusantara, mereka dihadapkan dengan masalah prostitusi yang tentu saja berdampak dengan merajalelanya penyakit kelamin. Apalagi pengobatan untuk ‘penyakit kotor’ belum ditemukan. Jauh sebelum kedatangan orang Barat prostitusi sudah dikenal sejak zaman pemerintahan feodal kerajaan Jawa. Perempuan dianggap sebagai barang dagangan dan sistem feodal pada masa itu telah membentuk landasan bagi perkembangan industri seks yang ada sekarang ini.
Pada masa penjajahan Belanda, seperti data-data yang dihimpun Arsip Nasional Republik Indonesia, bentuk industri seks yang terorganisasi berkembang pesat. Ini terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa. Umumnya aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan.  
Dalam sebuah penelitian disebutkan, dunia prostitusi tak hanya bisa mengungkap hal yang menyangkut pihak yang terkait dengan masalah hubungan kelamin, tetapi juga pihak yang secara sembunyi ikut menikmati dan mengambil keuntungan dari keberadaan prostitusi.                            

Prostitusi di Kramat Tunggak 1940-an
Prostitusi pernah mendapat ruang hidup secara legal dalam masyarakat kolonial. Saat Hindia Belanda Timur berada dalam kuasa Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (menjabat 1808-1811) mengeluarkan aturan perihal prostitusi.
Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte ikut membidani lahirnya aturan itu. Dia melihat daya tempur tentara Perancis mengendor akibat penyakit kelamin. Sumber penyakit kelamin berasal dari perempuan pekerja seks. Maka, Napoleon mewajibkan mereka mengikuti pemeriksaan medis secara rutin. “Ini berarti bahwa prostitusi dibolehkan...,” tulis Liesbeth Hesselink, “Prostitution: A Necessary Evil,” termuat dalam Indonesian Women in Focus suntingan Elsbeth Locher Scholten dan Anke Borkent-Niehof. Aturan itu berumur pendek karena Prancis hengkang dari Hindia Belanda Timur pada 1813. Prostitusi pun merebak tanpa kendali.     
Terusik maraknya sebaran penyakit kelamin dan prostitusi ilegal, sekelompok masyarakat mendesak pemerintah kolonial mengeluarkan aturan perihal prostitusi. Menurut mereka, prostitusi sudah jadi kebutuhan alamiah laki-laki. Orang mustahil menolak prostitusi sebab mereka membutuhkannya. Muncullah sebutan untuk prostitusi : “kejahatan yang dibutuhkan.” 
Pemerintah kolonial berpihak pada kelompok pendukung prostitusi. Mereka mengeluarkan Reglement tot wering van de schadelijke gevolgen, welke uit de prostitutie voortvloejen (Aturan untuk melawan dampak buruk prostitusi) pada 1852. Ini berarti prostitusi kembali menemukan pijakan legal.
Di Batavia, praktek prostitusi sudah dimulai sejak Jan Pieterszoon Coen membakar Jayakarta dan mendirikan kota baru di atas reruntuhannya. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Sumberdaya Regional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PSDR-LIPI) tentang sejarah prostitusi di Jakarta menunjukkan, sejak masa inilah sistem pergundikan yang jadi cikal bakal prostitusi di Jakarta dimulai. 

Munculnya Rumah Bordil


Ridwan Saidi, seorang Budayawan Betawi mengatakan, konsentrasi prostitusi pertama di Batavia adalah di kawasan Macao Po, disebut demikian karena pekerja seksnya berasal dari Makao, di sebuah rumah bertingkat di seberang Stasiun Beos. Mereka didatangkan oleh para germo Portugis dan China untuk menghibur tentara Belanda. 
Leonard Blusse dalam bukunya yang berjudul Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia memaparkan, Gubernur Jenderal J.P. Coen menyadari bahwa manusia tak bisa hidup tanpa wanita. J.P. Coen pun harus menghadapi keharusan menyediakan wanita-wanita Belanda yang sudah siap kawin. Wanita-wanita ini ternyata merupakan karyawan J.P. Coen di kawasan Timur, termasuk Batavia.  Namun, pada kenyataannya noni-noni Belanda itu merasa merana dan kesepian ketika berada di daerah tropis. Sejak 1635, dewan komisaris dari Heeren XVII mengubah strategi dengan mengikuti cara-cara kolonisasi Portugis, yaitu menggalakkan perkawinan dengan perempuan Asia untuk menciptakan perempuan campuran yang patuh khususnya di Batavia. (baca juga : Losmen lampu Merah dan Pelacuran di Batavia)
Peraturan kala itu, seorang pria Belanda yang menikah dengan perempuan pribumi tak boleh membawa keluarganya ke Belanda. Peraturan ini mengakibatkan banyak pegawai Kompeni lebih suka mengawini nyai-nyai. Pasalnya, bila ia memutuskan kembali ke Belanda bisa terhindar dari ikatan dengan gundik-gundik dan anak-anaknya untuk kemudian di negeri sendiri memilih istri yang diimpi-impikan. Sistem pergundikan ini sudah ada sebelum Belanda tiba di Batavia. Menurut Blusse, sistem ini ditentang para pembesar  gereja di Batavia. Sistem pergundikan ini pun menghasilkan sejarah panjang keberadaan para nyai. (baca juga : Budak Seks di Batavia)
Di kawasan Macao Po, seiring dengan perkembangan kota Batavia, praktek prostitusi kian meluas ke Gang Mangga, kini sekitar Jalan Pangeran Jayakarta. Kompleks prostitusi Gang Mangga akhirnya kalah bersaing dengan Soehian (rumah bordil) yang dibikin orang Tionghoa. Pemerintah Belanda menutup tempat itu namun kemudian prostitusi tumbuh kembali di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (sawah Besar).
Di Batavia kisah pelacuran tak bisa lepas dari perjalanan musik keroncong. Menurut Ridwan, kedua hal itu memang saling kait. Keroncong diperkirakan muncul pada akhir abad 17 di Jassenburg (kini bernama Jembatan Batu, tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota). Di lokasi ini, pemuda-pemudi tempo dulu bersantai di malam hari. Para pemuda jualan suara sambil memetik gitar, merayu gadis-gadis yang "mejeng" di loteng rumah. Hal itu merupakan tradisi Eropa yang dibawa orang-orang Mestizo (peranakan Portugis-India).
Lama kelamaan perumahan Mestizo di Jassenburg berpindah kepemilikan ke orang Tionghoa. Menurut Ridwan Saidi, musik keroncong tetap mengalun namun gadis yang berdiri di loteng bukan lagi gadis Mestizo yang hitam manis melainkan Macao Po, gadis-gadis Macao peranakan Tionghoa-Portugis. Sebutan mereka moler (Portugis) yang artinya perempuan, yang kemudian mengalami perubahan makna menjadi perempuan jalang. Sedang orang Betawi menyebutnya Cabo yang artinya wanita malam. Perempuan Macao Po ini pun menjadi konsumsi kapiten dan letnan Tionghoa serta Kompeni berpangkat. Sementara buaya keroncong yang tak henti memetik gitar dan menyanyikan Terang Bulan, tak masuk hitungan.
Dalam Rode Lamp van Batavia tot Jakarta, Ridwan mencatat, Jassenburg menjadi rode lamp alias red light atau kawasan pelacuran kelas menengah bawah pertama di Batavia. Tepatnya di Gang Mangga, di sebelah timur Jassenburg. Dari kawasan inilah kemudian penyakit mangga berkembang, disebut juga pehong (sial) yang biasa menjangkiti pria yang doyan mampir ke rode lamp.
Kejayaan Gang Mangga berakhir pada pertengahan abad 19. kawasan itu pun berubah menjadi pemukiman penduduk, sehingga perlahan Gang Mangga lenyap. Kemudian, seluruh jalan yang membentang dari Jassenburg sampai ke pintu air Goenoeng Sari dinamakan Mangga Doea Weg. Sebagai ganti tempat hiburan untuk mendengarkan musik, munculah rumah plesir milik orang kaya seperti Oei Tamba Sia yang kemudian berkembang menjadi Soehian.
Dalam perkembanganya Soehian pun berubah menjadi rumah bordil. Sebelum tutup pada awal abad 20, rumah bordil Soehian ini banyak membawa korban. Korbannya tak lain perempuan-perempuan penjaja seks. Sebut saja perempuan bernama Fientje de Fenicks dari Soehian di Paal Merah, Nona Bong dari Soehian di Kampung Bebek, dan Aisah dari Kampung Kramat yang tewas di rel kereta tak jauh dari Senen.
Soehian kemudian berganti menjadi kompleks pelacuran yang tersebar di Gang Kaligot, Sawah Besar, Gang Hauber, Gang Kalijodo dan Petojo. Perempuan penjaja seks ini berkeliaran di sekitar Bioskop Alhambra sampai Jembatan Ciliwung (di depan Gajah Mada Plaza sekarang). Di masa itu, penduduk menyebut kawasan itu sebagai Jembatan Busuk lantaran bau parfum para pelacur yang menyengat bercampur bau keringat yang menyebar di malam hari.
Kedua gang tersebut terus berjaya bahkan hingga tentara Jepang masuk ke Batavia. Tentara Jepang ini ternyata menjadi konsumen aktif rumah bordil itu. Di zaman Jepang inilah, tempat wanita tuna susila makin marak bahkan hingga ke gerbong kereta api Senen. Di masa sekarang ini, lokalisasi ini pun diobrak-abrik hingga penjaja seks yang masih dicari calon pembeli harus ngetem di tempat-tempat yang tak berbeda dari jaman Jepang.

Kramat Tunggak


Setelah Indonesia merdeka, pelacuran masih menjamur di Jakarta. Pusat-pusat lokalisasi yang terkenal antara lain di Gang Hauber di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. Wali Kota Sudiro mengganti nama Gang Hauber menjadi Gang Sadar untuk mengubah citra lokalisasi ini pada pertengahan 1950-an. Tapi praktik pelacuran masih berlangsung hingga era 1980-an.
Pada 1960-an, ada lokalisasi Kaligot di Mangga Besar. Lalu Planet, di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sementara lokalisasi kelas bawah memanjang dari Stasiun Senen sampai Gunung Sahari. Para pelacur bertarif murah melayani pria hidung belang di gubuk-gubuk kardus sepanjang rel kereta. Gerbong kosong pun jadi tempat esek-esek.
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian menggusur tempat pelacuran ini. Semuanya dilokalisir di Kawasan Lokalisasi Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Langkah Bang Ali yang seperti melegalkan pelacuran ini ditentang banyak pihak. Tapi Bang Ali tak peduli, ia mengaku lebih baik melokalisi pelacur agar mudah dibina daripada melihat pelacur berkeliaran tanpa pengawasan.
Pada periode 1970-1980-an, luas  Kramat Tunggak mencapai 12 hektar. Jumlah pelacur mencapai 2.000 orang. Kebanyakan berasal dari wilayah Pantura seperti Subang, Indramayu dan Cirebon. Lokalisasi ini dikenal sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara.
Di tahun 1999, Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso membubarkan Kramat Tunggak. Sutiyoso yang kerap dipanggil Bang Yos ini pun mengubah lokalisasi Kramat Tunggak menjadi Jakarta Islamic Centre. Tapi bukan berarti masalah pelacuran selesai. Para wanita malam kembali berkeliaran di jalan-jalan. Sebagian tersamar sebagai pemijat atau pemandu lagu. Saat Jakarta gelap mereka melenggok di atas aspal. Menukar cinta dengan lembaran rupiah. Pelacuran tak akan mati, hanya berpindah tempat.

Referensi




Minggu, 08 Mei 2016

5 Pelacur Paling Terkenal Sejagat

Pelacur merupakan sebuah profesi yang sangat tidak terpuji menjual tubuh hanya untuk mendaptakan beberapa lembar uang, pelacur sendiri sudah ada sejak ribuan tahun lalau dan sampai saat ini yang namanya pelacuran masih bisa ditemui dan banyak para pelacur beroprasi diseluruh dunia. Pelacur sering diangap hina oleh masyarakat namun tahu gak kamu jika ada beberapa pelacur di dunia  yang sangat terkenal dan pernah menjadi fenomenal. Nah kamu ingin tahu pelacur siapa saja yang sangat terkenal sejagad simak 5 Pelacur Paling Terkenal Sejagad berikut ini.


1. Aspasia
Aspasia - www.jurukunci.net
Aspasia seorang perempuan dari zaman Yunani Kuno dan punya pengaruh hebat pada ahli negara saat itu, Pericles. Dia tertulis dalam kitab-kitab karangan Plato, Aristophanes, Xenophon, dan penulis hebat lainnya di masa itu.

Dia dikabarkan telah menikah dengan Pericles namun juga menjadi gundik Lysicles, seorang negarawan dan jendral.

2. Lulu White
Lulu White - www.jurukunci.net
Lulu White terlahir dengan nama Lulu Hendley pada 1868. Dia pelacur paling tersohor asal Negara Bagian New Orleans, Amerika Serikat. Dia juga terkenal menjadi germo pertama di Negara Adidaya itu dan mempunyai rumah bordil Mahogany Hall. Penampilan White paling lekat yakni selalu mengenakan rambut palsu dan banyak perhiasan di tubuhnya.

Kisah White menjadi inspirasi banyak film ternama di industri Hollywood. Pretty Baby (1978) tontonan terlaris jaman itu menampilkan tokoh kebiasaan sama persis dengan White serta rumah bordil Mahogany Hall.

3. Cora Pearl
Cora Pearl - www.jurukunci.net
Perempuan ini bernama asli Emma Elizabeth Crouch dan menjadi pelacur paling tersohor di abad 19. Dia hanya melayani orang-orang kaya pada masa kerajaan Prancis kedua.

Cora termasuk pelacur cerdas di zamannya. Dia menyadari betul profesi ini bakal mempunyai akhir tragis. Itu sebabnya Cora membekali dirinya dengan pelajaran seperti didapat di sekolah. Dia pun berusaha keras untuk mendapatkan kekasih maupun pelanggan kaya raya untuk membuatnya tetap hidup layak.

4. Raquel Welch
Raquel Welch - www.jurukunci.net
Raquel Welch bernama asli Jo Raquel Tejada merupakan aktris 60-an berdarah Bolivia dan salah satu simbol seks Amerika Serikat.

Saat memulai karirnya menjadi model untuk pusat perbelanjaan tersohor neiman marcus, dia juga menjual tubuhnya untuk tidur dengan lelaki hidung belang. Para pengguna jasanya banyak dari kalangan pejabat.

5. Marilyn Monroe
Marilyn Monroe - www.jurukunci.net
Simbol seks 50-an Marilyn Monroe terlahir dengan nama Norma Jeane Mortenson. Masa lalunya super kelam, dia bahkan menjual tubuhnya untuk bisa makan menurut beberapa tulisan biografi berhasil dikumpulkan.

Keberuntungan berpihak padanya lantaran kemolekan wajah dan tubuh dia miliki. Monroe bisa menjadi aktris dan bermain di film-film laris. Namun ini pun belum cukup bagi kehidupan percintaannya. Dia dikabarkan menjalin hubungan dekat dengan Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy.

Nah itulah beberapa pelacur yang pernah ada di dunia yang sangat terkenal. (http://www.jurukunci.net/)