Sejak kapan seseorang merasa memiliki
talenta bisnis? Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab dengan cepat,
termasuk para pebisnis sukses sekalipun. Mereka, para pebisnis sukses
selalu mengatakan pencapaian bisnis yang kini diperolehnya adalah sebuah
perjuangan panjang yang dilalui dari nol, dari kecil, bahkan dari
pergulatan jatuh bangun menghadapi berbagai persoalan dan hambatan
bisnis yang hadir setiap saat.
H Masyhari (49), tokoh inspiratif yang
kami ketengahkan dalam Majalah Wirausaha dan Keuangan edisi kali ini,
memiliki jejak perjuangan panjang dan heroik yang patut untuk diikuti
oleh setiap orang, khususnya anak-anak muda Indonesia dalam menggeluti
sebuah bisnis. Seperti yang dikatakan Masyahari, kesuksesan tidak datang
tiba-tiba, juga tidak hadir dengan cara yang instan. Perjuangannya
sebagai pebisnis diawali dari ketiadaan karena Masyhari kecil, selepas
lulus SLTP di Demak, Jawa Tengah, memilih pergi dari rumahnya untuk
hijrah menuju Jakarta. Dalam benak Masyhari, mengapa ia harus
melanjutkan sekolah sementara banyak lulusan sekolah tinggi yang ada di
daerahnya banyak yang menganggur.
Karenanya ia menolak anjuran keluarganya
agar mengurungkan niatnya ke Jakarta mencari uang, dan melanjutkan ke
jenjang sekolah SMA saja seperti anak-anak lain pada umumnya. Niatnya ke
Jakarta untuk mencari uang benar-benar telah bulat. Seorang kerabat
yang tinggal di Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan menjadi tujuannya.
Sesampai di Jakarta, seorang kerabatnya bertanya, mau ngapain datang ke
Jakarta? Ia menjawab, “saya mau cari uang,”. Hanya beberapa hari setelah
tinggal di rumah saudaranya ia memutuskan dan membulatkan tekadnya
untuk mencari uang sendiri. Pekerjaan pertama yang dilakukan adalah
berjualan minyak tanah. Pelanggannya adalah pemilik warteg, kios kaki
lima hingga rumah-rumah petak. Tiga bulan kemudian ia berpindah profesi
sebagai penjual koran keliling.
Dengan menjual koran ia dapat membaca
gratis berbagai majalah dan koran yang dijualnya. Melalui majalah dan
koran yang dibacanya setiap hari pengetahuannya bertambah, keinginanya
untuk sukses kian berkibar-kibar. Suatu hari, saat ia menunaikan sholat
dhuhur di sebuah mushola selepas berjualan koran, ia bertemu dengan
anak-anak SMA yang sedang menunaikan sholat. Ia bertanya, berapa biaya
per bulan untuk masuk sekolah SMA di Jakarta? Anak-anak SMA itu menjawab
: biaya sumbangan pendidikan (SPP) hanya Rp3ribu per bulan, dan uang
pangkalnya hanya Rp5ribu per bulan kala itu. Dengan hasil kerja sebagai
loper koran dan majalah yang diperoleh setiap hari, Masyhari merasa
mampu bukan saja membayar uang sekolah tetapi juga uang kost dan biaya
hidupnya sehari-hari secara mandiri.
Sejak saat itulah ia masuk sekolah SMA
Asyafiiyah, Tebet dari biaya yang dicarinya sendiri. Dalam perjalan
bisnis yang dijalani, kesuksesan demi kesuksesan mampu ia raih. Hidupnya
penuh sinar terang kesuksesan, namun kebangkrutan dan kegagalan juga
kadang menghampirinya. Ia kemudian bangkit lagi, belajar lagi, dan satu
demi satu sukses itu diraihnya kembali. Berbagai pengalaman pahit telah
ia rasakan, berbagai pekerjaan pernah ia rasakan, menjadi sales, penjual
obat, hingga kini mengelola aneka perusahaan mulai dari bisnis jamu,
usaha advertising, bisnis travel yang menyelenggarakan umroh plus dan
haji, usaha property yang mengelola puluhan rumah kost, menjadi dosen,
hingga ustad di pengajian-pengajian.
Bagi Masyhari, yang akhir tahun 2010
lalu memperoleh gelar doktor (S3) setelah mempertahankan disertasi
doktornya yang berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Menentukan
Peningkatan Industri Jamu Tradisional dalam Rangka Penciptaan Lapangan
Kerja serta Implikasinya terhadap Kesejahteraan Karyawan Jamu
Tradisional di DKI Jakarta, di Universitas Borobudur, Jakarta semakin
mengukuhkan pendapatnya bahwa jika seseorang ingin menjadi pebisnis
sukses diperlukan sikap multi talenta. “Talenta berbisnis itu ada di
setiap orang, tinggal mereka mau atau tidak untuk menjalankan,” ujarnya. (http://peluang-usaha.wirausahanews.com/)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar