Ilustrasi/int
Oleh: Saurma
Suatu kondisi yang sesungguhnya tidak sepatutnya berlaku tetapi terus berlangsung di sekitar kita, menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana: sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kejahatan, korupsi, ketidaknyamanan, tekanan dan sebagainya, semua masih saja terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Kenapa sampai demikian, banyak orang me-nyebutnya sebagai suatu situasi yang sistemik. Padahal, sesungguhnya telah lahir sebuah generasi permisif, yang membuat orang apatis dan dapat menerima begitu saja kondisi apapun itu dalam kehidupannya dengan catatan tidak meng-usik dirinya secara pribadi. Benarkah sikap demikian?
"Tetanggaku kata tetanggaku yang lain adalah seorang pelacur, bahkan putri-putrinya katanya ikut melacurkan diri dengan sepengetahuan ibunya. Kabar terakhir, Ibunya didesas-desuskan orang mengidap HIV-Aids. Lantas, apa yang bisa kuperbuat? Temanku yang lain bilang, tetangganya dulu setiap hari menghisap bensin untuk menambah pemasukan. Kupikir mereka ada kelainan. Ternyata maksudnya setiap hari supir mobil itu memasukkan selang ke tangki bensin mobil pemerintah yang dibawanya ke rumah dan menghisap serta mengum-pulkan bensin itu sedikit demi sedikit untuk dijual. Lalu, ada pula rekan lain yang dengan gaya takjub menyatakan keheran-annya karena ada menantu tetangganya yang mendadak kaya raya dan punya rumah serta tanah dimana-mana. Padahal mereka, suami istri anak tetangganya itu hanyalah pegawai negeri biasa, bukan pejabat tinggi. Pendidikannya juga hanya level sekolah menengah dan mereka bukanlah pengusaha. Ada pula lagi sege-rombol anak muda di tempatnya yang selalu ngumpul-ngumpul dan terus dengan hingar bingar musik serta minuman keras. Mungkin saja mereka mabuk dan melaku-kan kerusakan akibat tidak sadarkan diri. Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk orang-orang demikian? Apa kita harus menyelidiki kebenarannya? Atau melapor-kan kecurigaan kita? Bukannya kita malah dianggap aneh sama orang-orang?" omel panjang penuh isi seorang teman yang keberatan dengan pernyataan penulis bahwa kita juga ternyata adalah penyebab "bencana" pada suatu generasi ini.
Kuatir
Tersirat kekuatiran yang mendalam pada teman tersebut, apabila harus terlibat dalam sesuatu yang dianggap bukan urusannya. Apalagi memang santer di-sebut-sebut di kalangan masyarakat bahwa jika kita berurusan dengan pihak keamanan maka kita akan direpotkan dengan berbagai prosedur pelaporan serta diklarifikasi berkali-kali sehingga akan banyak waktu yang akan terbuang, sementara kita memiliki banyak kesibukan rutin, yang pasti akan terkendala. Hal ini membuat teman tersebut alih-alih menyampaikan kecurigaan dan informasi yang dimilikinya pada pihak terkait. Ia lebih memilih bercerita kepada teman-temannya.
Padahal, sesungguhnya kekuatiran yang lebih besar lagi sepatutnya menjadi pemikirannya. Sebuah ancaman terhadap diri dan keluarganya sedang berlangsung. Dalam skala lebih besar, jika efek snowball berlangsung maka lingkungan di sekitarnya, bahkan di negeri ini, akan terancam jika kita melakukan pembiaran. Sesuatu yang tidak dipedulikan bisa jadi justru akan berkembang dan pada ak-hirnya memengaruhi diri kita sendiri. Sehingga, apapun itu, mau tidak mau akan menjadi urusannya juga, sebab ia hidup di tengah-tengah kondisi tersebut dan bukan tidak mungkin terkena pengaruhnya.
Katakan saja, jika ia adalah tetangga dari sebuah keluarga yang menganggap prostitusi satu-satunya cara mereka untuk dapat memenuhi kebutuhan keseharian mereka, Lalu, jika anak dari keluarga tersebut adalah sahabat dari anaknya, apakah ia tidak kuatir apabila anaknya dipengaruhi untuk ikut-ikutan melacurkan diri? Demikian pula dengan tetangga yang mengumpulkan bensin tadi, suatu ketika saat ia lengah lalu ada api yang mengenai bensin yang disimpannya dalam keadaan kurang aman, bukan tidak mungkin jika kebakaran terjadi dan merembet ke rumahnya. Kasus yang sama pada tetangga yang mendadak kaya dan hampir tidak ada alasan untuk itu selain karena kejahatan. Kalau saja ia adalah pengedar narkoba atau sabu, apakah ia tidak kuatir anak-anaknya bisa terkena jerat mereka? Termasuk dengan anak-anak peminum keras, apa tidak mungkin akan membuat anak-anaknya menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar sebab setiap orang di sekitarnya tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya?
Permisif
Semua itu menunjukkan bahwa kita tidak dapat tidak awas dengan situasi apapun yang ada di sekitar kita. Bahkan ketika sang suami atau istri mendadak membawa pulang uang dalam jumlah yang sangat besar, di luar biasanya dan tidak jelas alasan keberadaan uang itu. Sepatut-nya kita sebagai pendamping hingga anggota keluarga patut mempertanyakan "rejeki nomplok" itu berasal dari mana dan bukan sekedar ikut menikmati tanpa kejelasan sumber rejeki mendadak tadi. Kita tidak dapat tidak peduli dengan semua itu, karena jaman kini banyak hal terjadi di luar dugaan kita. Banyak godaan yang siap menjerat kita dalam kejahatan.
Sikap permisif dengan cara cuek, tidak peduli karena menganggap bukan uru-sannya hingga melakukan pembiaran merupakan benih dari ancaman yang lebih besar kemudian. Apalagi jika ketidak-perdulian itu menjadi gaya hidup dimana setiap orang menjadi demikian bebas serta sesuka-sukanya melakukan apapun yang ia mau. Kita menyaksikan sendiri peran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat serta orangtua harus semakin ditingkatkan di jaman ini. Apalagi rasa takut dan segan, trendnya cenderung menurun belakangan ini.
Lantas bagaimana? Tidak cukup me-nunggu tetapi kita memang harus bersikap atas sesuatu yang tengah mengancam bangsa ini. Sikap tidak mau tahu membuat generasi permisif membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa adanya penegasan mendukung atas hal yang baik dan me-nolak hal yang buruk. Akibatnya, segala sesuatunya berjalan tanpa dapat dicegah dan kejahatan terus berkembang. Pemerintah selaku otoritas yang bertanggung jawab atas semua sendi kehidupan masyarakatnya juga harus memfasilitasi dan menginformasikan secara terus menerus terkait tempat pe-laporan atas berbagai kecurigaan potensi tindak kejahatan dengan cara lebih mudah dan terjangkau, dimana pelapor terlindungi dan tidak malah kuatir akan direpotkan. Sekedar saran untuk sebuah generasi permisif yang tanpa kita sadari mulai terbentuk di negeri ini. (http://analisadaily.com)
Suatu kondisi yang sesungguhnya tidak sepatutnya berlaku tetapi terus berlangsung di sekitar kita, menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana: sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kejahatan, korupsi, ketidaknyamanan, tekanan dan sebagainya, semua masih saja terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Kenapa sampai demikian, banyak orang me-nyebutnya sebagai suatu situasi yang sistemik. Padahal, sesungguhnya telah lahir sebuah generasi permisif, yang membuat orang apatis dan dapat menerima begitu saja kondisi apapun itu dalam kehidupannya dengan catatan tidak meng-usik dirinya secara pribadi. Benarkah sikap demikian?
"Tetanggaku kata tetanggaku yang lain adalah seorang pelacur, bahkan putri-putrinya katanya ikut melacurkan diri dengan sepengetahuan ibunya. Kabar terakhir, Ibunya didesas-desuskan orang mengidap HIV-Aids. Lantas, apa yang bisa kuperbuat? Temanku yang lain bilang, tetangganya dulu setiap hari menghisap bensin untuk menambah pemasukan. Kupikir mereka ada kelainan. Ternyata maksudnya setiap hari supir mobil itu memasukkan selang ke tangki bensin mobil pemerintah yang dibawanya ke rumah dan menghisap serta mengum-pulkan bensin itu sedikit demi sedikit untuk dijual. Lalu, ada pula rekan lain yang dengan gaya takjub menyatakan keheran-annya karena ada menantu tetangganya yang mendadak kaya raya dan punya rumah serta tanah dimana-mana. Padahal mereka, suami istri anak tetangganya itu hanyalah pegawai negeri biasa, bukan pejabat tinggi. Pendidikannya juga hanya level sekolah menengah dan mereka bukanlah pengusaha. Ada pula lagi sege-rombol anak muda di tempatnya yang selalu ngumpul-ngumpul dan terus dengan hingar bingar musik serta minuman keras. Mungkin saja mereka mabuk dan melaku-kan kerusakan akibat tidak sadarkan diri. Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk orang-orang demikian? Apa kita harus menyelidiki kebenarannya? Atau melapor-kan kecurigaan kita? Bukannya kita malah dianggap aneh sama orang-orang?" omel panjang penuh isi seorang teman yang keberatan dengan pernyataan penulis bahwa kita juga ternyata adalah penyebab "bencana" pada suatu generasi ini.
Kuatir
Tersirat kekuatiran yang mendalam pada teman tersebut, apabila harus terlibat dalam sesuatu yang dianggap bukan urusannya. Apalagi memang santer di-sebut-sebut di kalangan masyarakat bahwa jika kita berurusan dengan pihak keamanan maka kita akan direpotkan dengan berbagai prosedur pelaporan serta diklarifikasi berkali-kali sehingga akan banyak waktu yang akan terbuang, sementara kita memiliki banyak kesibukan rutin, yang pasti akan terkendala. Hal ini membuat teman tersebut alih-alih menyampaikan kecurigaan dan informasi yang dimilikinya pada pihak terkait. Ia lebih memilih bercerita kepada teman-temannya.
Padahal, sesungguhnya kekuatiran yang lebih besar lagi sepatutnya menjadi pemikirannya. Sebuah ancaman terhadap diri dan keluarganya sedang berlangsung. Dalam skala lebih besar, jika efek snowball berlangsung maka lingkungan di sekitarnya, bahkan di negeri ini, akan terancam jika kita melakukan pembiaran. Sesuatu yang tidak dipedulikan bisa jadi justru akan berkembang dan pada ak-hirnya memengaruhi diri kita sendiri. Sehingga, apapun itu, mau tidak mau akan menjadi urusannya juga, sebab ia hidup di tengah-tengah kondisi tersebut dan bukan tidak mungkin terkena pengaruhnya.
Katakan saja, jika ia adalah tetangga dari sebuah keluarga yang menganggap prostitusi satu-satunya cara mereka untuk dapat memenuhi kebutuhan keseharian mereka, Lalu, jika anak dari keluarga tersebut adalah sahabat dari anaknya, apakah ia tidak kuatir apabila anaknya dipengaruhi untuk ikut-ikutan melacurkan diri? Demikian pula dengan tetangga yang mengumpulkan bensin tadi, suatu ketika saat ia lengah lalu ada api yang mengenai bensin yang disimpannya dalam keadaan kurang aman, bukan tidak mungkin jika kebakaran terjadi dan merembet ke rumahnya. Kasus yang sama pada tetangga yang mendadak kaya dan hampir tidak ada alasan untuk itu selain karena kejahatan. Kalau saja ia adalah pengedar narkoba atau sabu, apakah ia tidak kuatir anak-anaknya bisa terkena jerat mereka? Termasuk dengan anak-anak peminum keras, apa tidak mungkin akan membuat anak-anaknya menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar sebab setiap orang di sekitarnya tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya?
Permisif
Semua itu menunjukkan bahwa kita tidak dapat tidak awas dengan situasi apapun yang ada di sekitar kita. Bahkan ketika sang suami atau istri mendadak membawa pulang uang dalam jumlah yang sangat besar, di luar biasanya dan tidak jelas alasan keberadaan uang itu. Sepatut-nya kita sebagai pendamping hingga anggota keluarga patut mempertanyakan "rejeki nomplok" itu berasal dari mana dan bukan sekedar ikut menikmati tanpa kejelasan sumber rejeki mendadak tadi. Kita tidak dapat tidak peduli dengan semua itu, karena jaman kini banyak hal terjadi di luar dugaan kita. Banyak godaan yang siap menjerat kita dalam kejahatan.
Sikap permisif dengan cara cuek, tidak peduli karena menganggap bukan uru-sannya hingga melakukan pembiaran merupakan benih dari ancaman yang lebih besar kemudian. Apalagi jika ketidak-perdulian itu menjadi gaya hidup dimana setiap orang menjadi demikian bebas serta sesuka-sukanya melakukan apapun yang ia mau. Kita menyaksikan sendiri peran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat serta orangtua harus semakin ditingkatkan di jaman ini. Apalagi rasa takut dan segan, trendnya cenderung menurun belakangan ini.
Lantas bagaimana? Tidak cukup me-nunggu tetapi kita memang harus bersikap atas sesuatu yang tengah mengancam bangsa ini. Sikap tidak mau tahu membuat generasi permisif membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa adanya penegasan mendukung atas hal yang baik dan me-nolak hal yang buruk. Akibatnya, segala sesuatunya berjalan tanpa dapat dicegah dan kejahatan terus berkembang. Pemerintah selaku otoritas yang bertanggung jawab atas semua sendi kehidupan masyarakatnya juga harus memfasilitasi dan menginformasikan secara terus menerus terkait tempat pe-laporan atas berbagai kecurigaan potensi tindak kejahatan dengan cara lebih mudah dan terjangkau, dimana pelapor terlindungi dan tidak malah kuatir akan direpotkan. Sekedar saran untuk sebuah generasi permisif yang tanpa kita sadari mulai terbentuk di negeri ini. (http://analisadaily.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar