Selasa, 16 Desember 2014

Dulu di Lokalisasi Kini Aktif di Bidang Konveksi

Dulu di Lokalisasi Kini Aktif di Bidang Konveksi
surya/didik mashudi
Warga eks Lokalisasi Semampir yang alih profesi menjadi perajin konveksi sudah mahir jahit menjahit, Minggu (14/12/2014). 
 
Alih profesi bagi warga eks Lokalisasi Semampir, Kota Kediri mulai berbuah positif. Pelan tapi pasti warga yang tinggal di komplek lokalisasi mulai meninggalkan bisnis prostitusi beralih membuka usaha pesanan konveksi.
Titin (42) salah satu pemilik wisma di eks Lokalisasi Semampir sekarang sudah mahir dalam hal jahit menjahit serta memotong kain. Setiap hari sekitar 25 warga yang secara bergantian memotong kain dan menjahit baju dan kaos pesanan.
Aula yang sebelumnya untuk pembinaan penghuni lokalisasi difungsikan sebagai bengkel kerja. Termasuk mesin-mesin jahit dan obras moderen yang terbaru juga telah disiapkan Pemerintah Kota Kediri.
"Teman sangat antusias belajar dan sekarang sudah banyak yang mahir menjahit," ungkapnya.
Kesibukan baru warga penghuni lokalisasi ini perlahan-lahan telah mengalihkan perhatian warga dari bisnis lama yang terkait dengan dunia prostitusi. Sebelum komplek lokalisasi Semampir ditutup, warga sangat tergantung dari perputaran uang dari bisnis esek-esek ini.
Profesi lama warga lokalisasi ini mulai pemilik warung dan wisma, usaha salon, tukang parkir serta pengelola tempat karaoke. Menyusul ditutupnya lokalisasi, semua bisnis lama mendadak terhenti sehingga sempat membuat warga shock karena tidak bisa mendapatkan nafkah.
Pemkot Kediri kemudian meminta warga terdampak penutupan lokalisasi alih profesi usaha yang halal. Selain dilatih jahit menjahit, ada yang mengikuti pelatihan usaha kuliner masakan dan salon. Pelatihan kuliner dan salon ini saat ini masih berlangsung.
Titin sendiri mengaku memilih konveksi karena prospeknya dinilai cukup bagus. Namun warga juga berharap ada bantuan dan pembinaan dari Pemkot Kediri dengan order pesanan ke warga eks Lokalisasi Semampir.
Meski belum banyak menerima pesanan, namun sudah ada sejumlah instansi pemerintah dan swasta serta perorangan yang memesan order. Ada yang telah memesan kaos, baju, babydool, jaket dan celana training.
Meski masih dalam taraf berlatih membuka usaha, namun para pelaku usaha mantan mucikari dan pemilik wisma itu menjamin sudah dapat mengerjakan order dalam partai besar.
"Semua jenis kaos dan training kami siap memenuhi. Baju model apapun dengan tingkat kesulitan tinggi kami sudah bisa membuatnya," ungkap Untung Bosweld, pendamping warga binaan Semampir kepada Surya Online.
Untung berharap ke depan pengadaan baju seragam PNS se Kota Kediri diberikan kepada penjahit warga binaan Semampir. "
Dengan peralatan dan sumber daya yang kami miliki, kami siap mengerjakan pesanan baju seragam PNS," tandasnya.
Tahun depan kata Untung, RSUD Gambiran sudah siap memesan ratusan potong selimut pasien. Sejumlah instansi lainnya juga ada yang pesan kaos dan jaket training.
Tahap pertama pelatihan ketrampilan konveksi ini diikuti 25 peserta. Nantinya ke 25 orang ini akan melatih rekannya yang lain supaya terampil memotong dan jahit menjahit.
"Pelatihannya terus dirolling sehingga semua peserta nanti bisa menjahit dan memotong sendiri," jelasnya.
Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri Triono Kutut menyebutkan untuk memajukan usaha warga, semua pengadaan baju, kaos dan pakaian akan dikerjakan warga binaan Semampir. "Mulai 2015 baju-baju seragam akan dikerjakan warga Semampir," jelasnya.
Diakui Triono Kutut, meski di awal penutupan lokalisasi sempat ada penentangan dari sejumlah warga, namun terbukti saat pelatihan pesertanya malah membeludak. "Target kami semula hanya 25 orang, tapi yang ikut hampir pelatihan 50 peserta," jelasnya. (http://jogja.tribunnews.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar