Ketegaran FN (34) boleh dibilang luar biasa dalam menjalani cobaan. Hidupnya diuji oleh HIV/AIDS, yang juga mendatangkan persoalan beruntun. Dia positif mengidap virus mematikan itu sejak 2007 lewat penularan dari suaminya KD (35) yang hobi mentato tubuhnya.
Pada situasi terpuruk seperti itu, lingkungan justru memberikan masalah. Dia tidak diterima di lingkungan, karena khawatir penyakit itu akan menyebar ke seluruh warga di lingkungan RT dan RW tempat tinggalnya. Warga pun berniat mengusirnya.
"Karena memang dulu yang mengusir saya dari kampung itu pak RT, saat di Probolinggo. Saya setelah tahu positif, pulang ke rumah ibu saya di Probolinggo. Waktu itu tidak ada yang tahu, terus kita itu sering dimintai tolong sama Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, untuk mengantar orang HIV/AIDS (ODHA)," kata FN saat ditemui di warung remang-remang di Pasuruan, Senin (1/12) sore.
Awalnya waktu itu, seorang PNS terinfeksi di Probolingo, karena belum ada alur kesehatan dan layanannya disuruh mendampingi untuk ke Malang. Orang tersebut sering datang ke rumah FN untuk konsultasi, terutama masalah minum obatnya.
"Namanya tetangga, di daerah kecil kan sering nguping, akhirnya tetangga depan rumah yang ngomong ke RT dan RW. Dia ngomong kalau saya dan suami punya penyakit kayak gini. Nanti takut keluarganya tertular juga, karena kan selokannya satu aliran, satu jalur sama kamar mandinya. Nanti takut kalau anak-anaknya main di selokan," kisahnya.
Akhirnya lingkungan sampai gempar. Pak RT dan RW telepon Dinas Kesehatan. Kendati FN berstatus sebagai dampingan dinas kesehatan tetap warga mengadilinya. Sementara suaminya yang bekerja di luar kota, sengaja tidak diberitahu. Keluarga khawatir akan muncul tindakan nekat dari KD. "Sampai dibawa ke kantor kecamatan untuk disumpah kalau saya tidak akan menyebarkan penyakit saya ke semua orang," ingatnya.
Namun masalah belum berarti selesai begitu saja, meski sumpah itu sudah dilakukan. Karena anak sulungnya kesulitan mendapatkan sekolahan. Beberapa sekolah seperti mendapat intervensi untuk tidak menerima putranya, kendati saat itu dokter menyatakan negatif. Saudara-saudara yang semula dekat pun berubah sikap.
"Sempat anak yang besar tidak bisa sekolah, karena sama Pak RT wanti-wanti agar sekolah menolak, jangan sampai sekolah menerima anak saya. Takutnya nanti tertular juga, akhirnya anak saya tidak bisa sekolah. Saya memutuskan pulang ke rumah mertua di kabupaten. Anak saya sekolahkan di sana," tegasnya.
"Ada sepupu yang jadi bidan itu tidak mau periksa saya. Ketika itu bahkan saya sedang hamil anak keempat tidak ada yang mau pemeriksa saya, harus ke Malang. Anak imunisasi pun tidak ada yang mau," terangnya berkaca-kaca.
FN dan KD pun akhirnya terpanggil untuk menyampaikan pendidikan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Karena pemahaman lingkungan yang salah selama ini telah membuatnya menjadi korban. Orang dengan HIV/AIDS tetaplah manusia yang ingin dihargai asasinya.
Pada situasi terpuruk seperti itu, lingkungan justru memberikan masalah. Dia tidak diterima di lingkungan, karena khawatir penyakit itu akan menyebar ke seluruh warga di lingkungan RT dan RW tempat tinggalnya. Warga pun berniat mengusirnya.
"Karena memang dulu yang mengusir saya dari kampung itu pak RT, saat di Probolinggo. Saya setelah tahu positif, pulang ke rumah ibu saya di Probolinggo. Waktu itu tidak ada yang tahu, terus kita itu sering dimintai tolong sama Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, untuk mengantar orang HIV/AIDS (ODHA)," kata FN saat ditemui di warung remang-remang di Pasuruan, Senin (1/12) sore.
Awalnya waktu itu, seorang PNS terinfeksi di Probolingo, karena belum ada alur kesehatan dan layanannya disuruh mendampingi untuk ke Malang. Orang tersebut sering datang ke rumah FN untuk konsultasi, terutama masalah minum obatnya.
"Namanya tetangga, di daerah kecil kan sering nguping, akhirnya tetangga depan rumah yang ngomong ke RT dan RW. Dia ngomong kalau saya dan suami punya penyakit kayak gini. Nanti takut keluarganya tertular juga, karena kan selokannya satu aliran, satu jalur sama kamar mandinya. Nanti takut kalau anak-anaknya main di selokan," kisahnya.
Akhirnya lingkungan sampai gempar. Pak RT dan RW telepon Dinas Kesehatan. Kendati FN berstatus sebagai dampingan dinas kesehatan tetap warga mengadilinya. Sementara suaminya yang bekerja di luar kota, sengaja tidak diberitahu. Keluarga khawatir akan muncul tindakan nekat dari KD. "Sampai dibawa ke kantor kecamatan untuk disumpah kalau saya tidak akan menyebarkan penyakit saya ke semua orang," ingatnya.
Namun masalah belum berarti selesai begitu saja, meski sumpah itu sudah dilakukan. Karena anak sulungnya kesulitan mendapatkan sekolahan. Beberapa sekolah seperti mendapat intervensi untuk tidak menerima putranya, kendati saat itu dokter menyatakan negatif. Saudara-saudara yang semula dekat pun berubah sikap.
"Sempat anak yang besar tidak bisa sekolah, karena sama Pak RT wanti-wanti agar sekolah menolak, jangan sampai sekolah menerima anak saya. Takutnya nanti tertular juga, akhirnya anak saya tidak bisa sekolah. Saya memutuskan pulang ke rumah mertua di kabupaten. Anak saya sekolahkan di sana," tegasnya.
"Ada sepupu yang jadi bidan itu tidak mau periksa saya. Ketika itu bahkan saya sedang hamil anak keempat tidak ada yang mau pemeriksa saya, harus ke Malang. Anak imunisasi pun tidak ada yang mau," terangnya berkaca-kaca.
FN dan KD pun akhirnya terpanggil untuk menyampaikan pendidikan tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Karena pemahaman lingkungan yang salah selama ini telah membuatnya menjadi korban. Orang dengan HIV/AIDS tetaplah manusia yang ingin dihargai asasinya.
[www.merdeka.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar